Genre: Romance, Sad (maybe)
Main Cast: - Dinar
- Bisma
- And others
this is REAL made by me :)
happy reading guys!
Don't Plagiat & Don't COPAS!!
cekk odoth!! ~~~>>
Takdir yang sudah ditentukan tak
bisa berubah dengan sendirinya kecuali orang itu sendiri yang merubahnya. Dan
semua itu butuh pengorbanan dan usaha keras. Tanpa adanya itu semua, semua tak
kan terwujud. Tuhan telah bersikap adil pada makhluknya. Semua diberi kelebihan
dan kekurangan masing masing. Yang menganggap dirinya tak mempunyai kelebihan
adalah mereka mereka yang tak pernah menyadari dan mencari kelebihan yang telah
Tuhan beri padanya. Banyak diantara orang orang yang tau apa kelebihannya tak
digunakan untuk kebaikan. Bahkan mereka lupa bersyukur kepada Tuhan dan mereka
mengabaikan dari siapa mereka mendapat kelebihan tersebut.
-------------------------
“Tuhan, mengapa engkau membuat
kakiku lumpuh? Kenapa Tuhan? Kenapa?” seorang laki laki menangis dan emosinya
meluap di sebuah taman. Kaki laki laki itu lumpuh akibat kecelakaan beberapa
bulan yang lalu. Sejak mengetahui bahwa kakinya lumpuh, tak bisa digunakan
untuk berjalan lagi ia lebih memilih menangis dan diam. Rencana yang ia buat
musnah sudah. Mimpi mimpi yang ia cita citakan musnah juga. Ia tak bisa
mewujudkan mimpinya dengan kondisi seperti ini. Hingga akhirnya ia bertemu
dengan seorang motivasinya.
----------------------
Dari kejauhan terlihat seorang perempuan
sedang bermain dengan kakaknya. Tak sengaja ia melihat seorang laki laki yang duduk
dikursi roda sambil menangis. Dan ia berniat untuk menghampiri laki laki
dikursi roda itu.
-Dinar
POV-
“teh.. Dinar mau jalan jalan kesana
ya?”
“yaudah yukk..”
“ngg.. nggak usah teh.. Dinar
sendirian aja.. Dinar kan udah gede”
(si kakak dengan wajah khawatir)
“ayolah teh.. Dinar nggak papa kok..”
(tiba-tiba Handphone si kakak
berbunyi)
“tuh kan ada telepon.. teteh angkat teleponnya aja dulu, biar Dinar jalan
jalan kesana”
“bener kamu nggak papa sendirian?”
“aduh teh.. Dinar ini kan udah
gede.. gapapa kok.. udah sana angkat telponnya..” (mendorong si kakak)
“yaudah.. teteh angkat telepon dulu,
kamu hati hati ya din..”
“iya teh.. beres..” (memberi tanda
jempol dan pergi meninggalkan kakaknya)
Aku berjalan menghampiri seseorang
yang sedang duduk di kursi roda itu yang sambil menangis. Akupun duduk di
bangku samping kursi rodanya dan bertanya..
“kamu kenapa?”
Laki laki itu tampak terkejut
mendengar pertanyaanku. Ia pun menghapus air matanya dan memalingkan wajahnya.
Selama beberapa saat ia tak kunjung menjawab pertanyaanku. Aku pun mencoba
bertanya lagi.
“kamu kenapa?”
Laki laki itu pun tak jua menjawab
pertanyaanku. Aku pun mencoba bertanya lagi.
“kamu kenapa?”
“kenapa siih kamu tanya kamu kenapa
kamu kenapa?” (mamalingkan wajahnya lagi)
Kamipun diam untuk beberapa saat.
Aku melihat laki laki itu duduk dikursi roda
“kamu nggak capek ya dari tadi duduk
disitu?” (sambil menunjuk kursi roda)
Tak ada jawaban lagi.
“kamu nggak capek ya duduk dikursi
roda?”
Masih tak ada jawaban
“kamu nggak capek yaa…”
(memotong) “kenapa siih kamu tanya
mulu? Udah tau kenapa aku duduk dikursi roda karna nggak bisa jalan dengan kayak
orang orang..” (memalingkan wajahnya lagi)
“ka..kamu.. lumpuh ya...”
“IYA.. aku memang lumpuh.. !! kaki
aku lumpuh, nggak bisa jalan.. sekarang udah puas? Mau nanya apa lagi hhaa?
PERGI !!” (dengan nada emosi)
“ma.. maaf..”
Emosinya meledak. Mungkin aku salah
ngomong. Aku pun memutuskan untuk diam dan pergi.
-Narrator
POV-
Laki laki itu pun melihat dinar
pergi dengan lesu.
“nggak seharusnya aku emosi kayak
gini, dia cuma pengen tau aku kenapa..” ujar laki laki dikursi roda itu.
Keesokkan harinya.. laki laki
dikursi roda itu pergi ketaman lagi pada sore harinya.. dengan kursi rodanya ia
menyusuri taman untuk kembali ke tempatnya merenung kemaren. Ketika sudah dekat
dengan tempat yang ia datangi kemaren itu.. dia melihat seorang perempuan
sedang duduk disana yang sedang belajar bermain gitar. Bisma pun menghampiri
perempuan itu.
“kamu lagi.. kamu lagii..” ujar
bisma
“eh.. ini tempat kamu ya? Yaudah,
kamu disini aja.. biar aku yang pergi..” (bersiap pergi)
“nggak usah pergi.. ini tempat umum
kok.. jadi siapa aja berhak disini..”
“maaf ya buat yang kemaren..”
“nggak papa kok.. seharusnya aku
yang minta maaf”
“buat apa? Kamu kan nggak salah”
“aku yang salah.. aku kemaren udah
ngebentak kamu.. nggak seharusnya aku ngebentak kamu.. kamu cuma pengen tau..
dan kemaren emosi aku lagi nggak bisa aku kontrol dan kamu malah jadi
sasarannya”
“nggak papa kok.. lagian aku juga
salah.. aku tau kalo kamu lagi menyendiri.. tapi aku malah nge ganggu kamu.. oh
ya.. aku dinar” (mengulurkan tangan)
“bisma..” (menjabat tangan dinar)
Mereka pun terdiam. Hingga bisma
melihat gitar yang dibawa dinar.
“kamu, suka main gitar?”
“hehe.. lumayan.. tapi masih tahap
belajar sih”
“oohh… hmm.. boleh minjem gitarnya
nggak?”
“dengan senang hati” jawab dinar
sambil tersenyum
Dinar menyerahkan gitarnya
Lalu Bisma pun memulai bermain gitar
dan menyanyikan sebuah lagu. Dinar hanya memandangi nya kagum. Setelah Bisma
selesai bernyanyi Dinar masih terpaku dengan kemahiran bisma bermain gitar dan
kelembutan suara bisma.
“wow.. permainan gitar yang bagus.. suara
kamu juga nggak kalah bagusnya” (tepuk tangan)
“makasiih.. biasa aja kok..
sebenernya aku punya angan angan, bisa jadi penyanyi dan punya konser tunggal
sendiri walaupun mini konser..” (tertawa lalu tersenyum)
“kenapa kamu nggak jadi penyanyi
aja?”
Bisma terkejut dengan pertanyaan
Dinar
“itu memang cita citaku.. tapi itu nggak
mungkin din..” lirih dinar
“kenapa nggak mungkin? suara kamu
itu bagus, kamu juga jago main gitar..”
“tapi aku lumpuh.. itu yang nggak
memungkinkan aku jadi seorang penyanyi..”
“bis.. di dunia ini nggak ada yang
nggak mungkin..”
“ada din.. ada.. yang nggak mungkin
di dunia ini adalah orang cacat seperti aku jadi seorang penyanyi..” ujar bisma
“aku udah dikontrak oleh sebuah label.. tapi beberapa bulan yang lalu ketika
mereka tau aku kecelakaan dan cacat. Mereka menarik kontrak itu.. mereka bilang
kalo seorang penyanyi cacat itu nggak ada.. aku dan laguku nggak akan diterima
sama masyarakat” sambung bisma
“kata siapa nggak ada? Kata siapa
nggak diterima?”
“kata mereka.. kata orang orang
label !!”
“itu kan kata orang label.. bukan
kata masyarakat..”
“tapi mereka lebih tahu tentang
pendapat dan selera masyarakat..”
“sekarang gini.. kamu hapus anggapan
orang label yang nggak jelas itu.. sekarang kamu harus mengubah mainset kamu..
bahwa kamu akan jadi seorang penyanyi yang disukai banyak masyarakat pecinta
musik..”
“aku nggak bisa..”
“bis.. inget !! di dunia ini nggak
ada yang nggak bisa.. kamu belum mencoba nya.. ayo.. sekarang kamu coba ubah
mainset kamu..”
Akhirnya bisma pun mencoba mengubah
mainset nya..
“sekarang kamu teriak kalo kamu akan
jadi seorang penyanyi..”
“haruskah?”
“ya.. tentu harus.. sekarang
teriakkan kata kata aku tadi”
“aku akan menjadi seorang
penyanyi..” (teriak)
“kurang keras..”
“aku akan jadi seorang penyanyi..”
(teriak lagi, kali ini dengan lebih keras)
“hahaha.. sekarang kan udah sore..
gimana kalo aku anter kamu pulang?” ajak dinar
“nggak ngerepotin?”
“enggak kok..”
Akhirnya Dinar mengantar Bisma
pulang. Dinar mendorong kursi roda bisma. Tanpa mereka tau, seorang produser
musik mengamati mereka dari tadi..
“laki laki itu memang berbakat..”
ujar si produser musik
Keesokkan harinya.. ditempat seperti
yang sama seperti kemaren, Bisma dan Dinar ada di tempat itu. Tapi kini suasana
nya berbeda.. mereka terlihat akrab.. bahkan sangat akrab..
“kamu ikut terapi jalan?” Tanya
dinar
“iya.. tapi kemajuannya belum
banyak”
“gimana kalo aku bantu buat jalan?”
Tanya dinar pada bisma
“hem? Kamu mau bantuin aku jalan..?”
“iyaa.. tapi kamu harus janji sesuatu
sama aku kalo kamu udah bisa jalan”
“janji? Janji apa? Jangan janji yang
aneh aneh ya..”
“nggak aneh aneh kok.. pertama
setiap selesai kamu belajar jalan.. kamu harus nyanyiin aku sebuah lagu. Kedua
kamu harus janji kalo kamu bakal jadi musisi terkenal yang selalu ada buat
penggemar kamu dan kamu nggak boleh bikin mereka kecewa”
“hahaha.. cuma itu? Itu siih beres..
aku janji..! sekarang kamu bantu aku belajar jalan..”
Akhirnya bisma pun belajar berjalan
dengan dibantu dinar. Setiap sore selama seminggu ini bisma belajar berjalan
dengan dinar dan setelah bisma selesai belajar berjalan bisma selalu menyanyikan
sebuah lagu. Dalam dua minggu kemajuan bisma sangat pesat. Bisma sudah mulai
bisa berjalan walaupun harus pelan pelan. Dan tanpa bisma dan dinar sadari,
selama seminggu juga mereka diawasi oleh produser itu.. hingga akhirnya pada
suatu sore ketika Bisma belum datang sedangkan dinar sudah datang ke taman, si
produser menghampirinya
“kamu temannya laki laki yang duduk
dikursi roda itu ya?”
Dinar yang sedang memainkan gitarnya
terkejut
“anda siapa ya?”
“kenalkan, saya Dicky Prasetya..
saya produser music dari label Star Seven”
“saya dinar, temannya bisma.. yang
duduk di kursi roda itu.. memangnya ada apa ya?”
“selama dua minggu ini saya selalu
melihat kalian dari kejauhan.. saya lihat dari jauh, bisma mempunyai bakat yang
luar biasa.. tapi saya tidak tahu suara dia dari dekat.. jadi saya minta
bantuan kamu untuk mengatur agar saya bisa mendengarkan dia bernyanyi dari
dekat”
“jadi..? anda berniat mengajak bisma
bergabung di label anda? Begitu?”
“yaa kurang lebih seperti itu.. kamu
bisa bantu saya kan?”
“iya.. saya bisa banget.. besok anda
kesini saja lagi.. saya akan membuat anda bisa mendengarkan suara bisma dengan
dekat..”
Produser itu tahu kalau bisma sudah
berjalan menuju ketempatnya ia pun pamit
“bisma sudah jalan kesini.. jadi
saya pergi dulu.. tapi ingat, jangan sampai bisma tahu tentang semua ini.. biar
kamu dulu yang tahu..”
“saya janji”
“baiklah saya permisi dulu”
Akhirnya produser itu pergi. Dan
bisma pun datang.
“aduh din.. maaf yaa aku ngebuat
kamu nunggu.. kamu udah lama?”
“enggak kok bis.. aku disini juga
baru kok.. yukk mulai latihan jalan..”
“yukk..”
Bismapun berlatih berjalan. Hingga
akhirnya cukup mereka pun duduk. Dinar dan Bisma duduk dibangku taman. Karna
akhir akhir ini ia lebih memilih memakai alat bantu jalan tongkat dari pada
kursi roda.
“kok kamu nggak bawa gitar?”
“tadi aku lupa bawa gitar.. jadi
kamu nyanyi buat aku nya besok aja..”
“okedeh..”
“oh ya.. aku besok punya kejutan
buat kamu..”
“kejutan? kejutan apa? Kasih tau
dong?”
“kalo aku kasih tau, itu namanya
bukan kejutan lagi..”
‘“yaahh.. yaudah deh”
“yaudah.. ini kan udah sore..
sekarang kita pulang yuk..”
Lalu dinar dan bisma pun pulang..
Setelah mengantar bisma pulang
kerumahnya, dinar pulang sejenak untuk ijin pada kakaknya. Dinar akan pergi ke
taman lagi untuk membuat sebuah kejutan kecil untuk bisma. Awalnya kakaknya
melarang, tapi karna dinar bersikeras untuk melakukan itu, akhirnya kakaknya
memperbolehkan tetapi kakaknya harus ikut. Ketika sudah malam sudah sangat
larut, tiba tiba dinar pingsan. Setelah dinar sadar kakaknya mengajak dinar
pulang.
“din.. sebaiknya kita pulang aja..
ini udah larut malam banget”
“tapi teh.. ini belum selesai..”
“din.. kamu juga harus merhatiin
kesehatan kamu! Kamu lagi drop!”
“teh.. please teh..”
“kita lanjutin besok aja ya.. teteh
nggak mau kamu kenapa napa. Besok teteh minta bantuin temen temen teteh deh,
biar ini cepet selesai.. ya?”
Akhirnya dinar setuju karna dia
merasa kesehatannya sedang memburuk. Keesokkan sorenya dinar sudah menyiapkan
semua agar produser music itu bisa mendengar suara bisma dengan dekat. Dinar membuat
tempat seperti sebuah mini konser di taman. Ia menyiapkan beberapa bangku untuk
penonton. Bisma dengan kursi rodanya mendekat ke arah dinar. ia heran karna
begitu ramai nya taman ini. ia lihat dinar ada di depan orang orang yang sedang
duduk riuh seperti menanti seseorang.
“nah itu dia penyanyi kita sudah datang..
bisma..”
Bisma pun menjalankan kursi roda nya
menuju ke dinar
“din.. ini ada apaan siih? Kok rame
banget?”
“kemaren kamu punya hutang nyanyi
sama aku.. dan kamu pernah bilang kalo kamu pengen punya konser tunggal sendiri
meskipun mini konser. sekarang kamu musti nyanyi disini, didepan aku, dan
didepan mereka semua..”
“hah?” (bisma terkejut)
“ini mini konser buat kamu..
sekarang kamu nyanyi ya..” (dinar terseyum sambil mengangguk)
“tapi..” (melihat dinar, dan dinar
hanya tersenyum dan mengangguk)
Dinar pun duduk bersama penonton dan
bersebelahan dengan produser music yang kemaren.
Bisma pun melihat Dinar.
“ayoo bisma.. kamu pasti bisa..!”
(mengangguk dan tersenyum)
Akhirnya bisma naik ke panggung
kecil itu.
“baiklah.. sebelum saya bernyanyi
saya ingin mengucapkan terimakasih pada dinar karna telah memberikan kejutan
istimewa ini untuk saya. Terimakasih juga buat yang sudah mau datang kesini..
lirik lagu ini adalah karya dinar yang saya coba aransemen. Semoga terhibur” Bisma
pun menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘Mulai Berjalan’. Para penonton termasuk
Dinar dan produser music itu merasa sangat terhibur. Ketika selesai bernyanyi
semua penonton bertepuk tangan. Dinar dan produser itu menghampiri Bisma.
“suara kamu sangat bagus.. kamu
punya bakat untuk jadi seorang penyanyi.. saya dicky prasetya. Saya produser
music dari label Star Seven ingin mengajak kamu untuk bergabung dengan kami..
apa kamu bersedia?”
“sa.. saa.. sayaaa?”ujar bisma tak
percaya
“iya kamu.. apa kamu mau bergabung
di Star Seven?”
“ta.. tapi.. saya lumpuh..”
“itu tak kan menghalangi kamu untuk
menjadi seorang penyanyi bisma.. ini surat kontrak kerja sama kita..”
(menyerahkan sebuah map)
“terimakasih.. terimakasih sudah mau
memberikan saya kesempatan yang berharga ini..” (dengan mata yang berkaca kaca)
“sama sama.. kamu juga harus
berterima kasih kepada dinar karena dia yang membuat mini konser ini agar saya
dapat mendengar kamu bernyanyi dengan dekat..”
“din.. makasiih.. makasih ya..”
“iya.. sama sama..”
‘aku senang melihat kamu tersenyum
bahagia..’ ucap dinar dalam hati sambil tersenyum
Beberapa hari kemudian, tak disangka
Bisma mendapatkan anugerah. Ia bisa berjalan lagi. Dinar sangat senang
mendengarnya. Tetapi ketika kondisi Bisma membaik, justru kondisi Dinar yang
semakin memburuk. Bisma baru sadar bahwa ia menyukai dinar. Tidak sekedar
teman, tetapi lebih. Suatu hari bisma dan dinar pergi ke sebuah cafe. Dan disana
bisma berencana akan mengungkapkan perasaannya pada dinar. Di tengah tengah
pembicaraan bisma memotong percakapan mereka.
“din.. ada yang mau aku omongin sama
kamu..”
“apa bis? Kok kayaknya serius
banget?”
“hmm.. aku langsung to the point aja
ya. (diam sejenak) aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu. Aku ingin hubungan
kita lebih dari temen. Lebih dari sahabat”
Dinar hanya tercengang dengan apa
yang bisma katakan.
“kamu serius bis?”
“iyaa aku serius din..”
“aku nggak bisa bis..”
“ke.. kenapa?”kaln ada
“aku nggak pantes buat kamu. Aku
bakal nggak bisa selalu disamping kamu nanti.. lebih baik kamu cari cewek lain
yang bakal selalu ada disamping kamu”
“kenapa kamu ngomong kayak gitu? Apa
maksud kamu, kamu nggak bisa disamping aku?”
“suatu hari nanti kamu bakal tau
alasan kenapa aku nolak kamu”
Tiba tiba darah segar muncul dari
hidung dinar. Bisma yang melihatnya panik.
“din.. itu.. hidung kamu berdarah”
Buru buru bisma mengambil tissue dan
menyeka darah yang terus mengalir.
“aku nggak papa kok bis.. aku nggak
papa..”
“nggak papa gimana? Hidung kamu
ngeluarin darah gini kok bilang nggak papa?”
“beneran bis.. aku nggak papa.. kamu
nggak perlu khawatir sama aku”
“gimana aku nggak khawatir? Wajah
kamu pucat din!! Pucat!!”
“aku cuma kelelahan bis.. lebih baik
kita pulang sekarang. Aku Cuma butuh istirahat kok”
“yaudah kita pulang sekarang”
Sesampainya dirumah dinar, kakak
panik mengetahui dinar sakit. Badan dinar lemas dan tak kuat untuk berjalan.
Akhirnya bisma menggendongnya dan membawa ke kamar. Kakak dinar buru buru
mengambilkan minum dan obat.
“sebenernya kamu sakit apa sih din?”
“sebenernya dinar itu sakit…..”
sahut kakak dinar yang belum selesai lalu dipotong dinar
“aku Cuma kelelahan bis.. aku Cuma
kecapekan.. kamu nggak usah khawatir.. mending kamu pulang aja.. besok kan kamu
harus konser di luar kota?”
“aku bakal ngecancel konser aku itu
din.. aku nggak bisa ninggalin kamu dalam kondisi kayak gini.. aku bakal
nemenin kamu”
“enggak bis.. kamu nggak boleh nge
cancel konser itu. Kasihan fans fans kamu. Mereka bakal kecewa sama kamu.. dan
aku nggak mau itu terjadi.. lagian aku disini ada teteh kan? Aku nggak
sendirian. Mereka lebih butuh kamu.. kamu lupa sama janji kamu dulu?”
“aa.. aku inget kok din.. tapi aku
nggak mungkin ninggalin kamu juga..”
“bis.. kalo kamu sayang sama aku,
tolong jangan cancel konser kamu besok. Aku mohon”
“oke. Sebagai wujud sayang aku sama
kamu aku bakal ngelakuin demi kamu”
“bukan.. bukan demi aku.. tapi demi
fans fans kamu”
“ii.. iiyaa.. demi fans fans aku….
Dan… kamu…”
Akhirnya bisma pulang. Setelah bisma
pulang kondisi dinar semakin memburuk. Kakak dinar membawa dinar ke rumahsakit.
Tapi nyawa dinar tak tertolong. Sebelum meninggal, dinar berpesan pada kakaknya
untuk tidak memberitahukan kondisi nya sampai bisma pulang dari luar kota.
Dinar juga menitipkan sebuah surat dan video yang sudah ia siapkan untuk bisma.
Sehari setelah bisma pulang dari
luarkota, dari bandara bisma buru buru pergi kerumah dinar. Ia khawatir karna
setelah dia pulang dari rumah dinar kemaren lusa, sampai pagi ini dinar tak
mengabarinya sama sekali. Sesampainya di rumah dinar, bisma melihat bendera
kuning. Ia semakin cemas. Ia pun segera masuk kerumah dinar yang ramai dengan
orang. Bisma yang melihat kakak dinar langsung menghampiri kakak dinar.
“teh.. ini ada apa kok rame banget?
Didepan kok ada bendera kuning sih? Emangnya siapa yang meninggal? Dinar mana
teh? Aku kangen banget sama dia”
“maaf bis..”
“maa.. maaf? Maaf buat apa teh?
Dinar mana?”
“Dinar udah nggak ada” jawab kakak
dinar yang tak bisa membendung tangisnya
“mak.. maksud teteh apa?”
“dinar meninggal bis.. dia kena
penyakit leukemia stadium akhir”
“nggak!! Nggakkk!! Ini nggak
mungkin..! teteh bercanda kan? Jawab teh!!”
“teteh nggak bercanda bis..!! ayo
teteh anter ke makam dinar”
Seketika bisma yang masih tak percaya
bahwa dinar sudah tidak ada meneteskan airmata. Kakak dinar mengantar bisma ke
makam dinar.
“kenapa kamu cepet banget ninggalin
aku? Bangunn din.. bangunn…!!” tangis bisma di makam dinar.
“bis.. kita harus ikhlas..”
“apa gara gara kamu tau hidup kamu
nggak panjang makanya kamu nolak aku?”
“iya bis.. dinar nolak kamu karna
dia tau hidunya nggak lama lagi. Dia nggak mau bikin kamu sedih. Dan ini ada
surat dan video buat kamu dari dinar. Dia nitipin ini sebelum dia pergi”
Kakak dinar meninggalkan bisma
sendirian disana. Bisma baru pulang dari makam dinar setalah hari mulai larut. Sesampainya dirumah bisma segera
membuka suratnya itu. Dan lalu memutar videonya. Video nya berisi ucapan
semangat untuk bisma.
“makasih din.. makasih.. karna kamu,
aku bisa jadi seperti ini. Karna kamu, aku bisa bangkit dari keputus-asaanku.
aku nggak akan ngelupain kamu din.. nggak akan..! aku juga sayang sama kamu..
selamanyaaa..” ujar bisma setelah membaca surat dan melihat video tersebut. Dan
air mata bisma menetes. Bisma bersedih dalam keheningan di malam yang sunyi.
-Tamat-
makasih yang udah baca :)
gue tau ini masih banyak kekurangannya..
maklum lah, gue baru tahap belajar..
semoga kedepannya lebih baik :D
papayy~~ ;)
follow: @dianaplarasati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar