Selasa, 09 Juli 2013

FF Mulai Berjalan (One Shoot)

Author: Diana Putri Larasati (@dianaplarasati)
Genre: Romance, Sad (maybe)
Main Cast: - Dinar
                 - Bisma
                 - And others

this is REAL made by me :)
happy reading guys!
Don't Plagiat & Don't COPAS!!

cekk odoth!! ~~~>>

Takdir yang sudah ditentukan tak bisa berubah dengan sendirinya kecuali orang itu sendiri yang merubahnya. Dan semua itu butuh pengorbanan dan usaha keras. Tanpa adanya itu semua, semua tak kan terwujud. Tuhan telah bersikap adil pada makhluknya. Semua diberi kelebihan dan kekurangan masing masing. Yang menganggap dirinya tak mempunyai kelebihan adalah mereka mereka yang tak pernah menyadari dan mencari kelebihan yang telah Tuhan beri padanya. Banyak diantara orang orang yang tau apa kelebihannya tak digunakan untuk kebaikan. Bahkan mereka lupa bersyukur kepada Tuhan dan mereka mengabaikan dari siapa mereka mendapat kelebihan tersebut.
-------------------------
“Tuhan, mengapa engkau membuat kakiku lumpuh? Kenapa Tuhan? Kenapa?” seorang laki laki menangis dan emosinya meluap di sebuah taman. Kaki laki laki itu lumpuh akibat kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Sejak mengetahui bahwa kakinya lumpuh, tak bisa digunakan untuk berjalan lagi ia lebih memilih menangis dan diam. Rencana yang ia buat musnah sudah. Mimpi mimpi yang ia cita citakan musnah juga. Ia tak bisa mewujudkan mimpinya dengan kondisi seperti ini. Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang motivasinya.
----------------------
Dari kejauhan terlihat seorang perempuan sedang bermain dengan kakaknya. Tak sengaja ia melihat seorang laki laki yang duduk dikursi roda sambil menangis. Dan ia berniat untuk menghampiri laki laki dikursi roda itu.
-Dinar POV-
“teh.. Dinar mau jalan jalan kesana ya?”
“yaudah yukk..”
“ngg.. nggak usah teh.. Dinar sendirian aja.. Dinar kan udah gede”
(si kakak dengan wajah khawatir)
“ayolah teh.. Dinar nggak papa kok..”
(tiba-tiba Handphone si kakak berbunyi)
“tuh kan ada telepon.. teteh  angkat teleponnya aja dulu, biar Dinar jalan jalan kesana”
“bener kamu nggak papa sendirian?”
“aduh teh.. Dinar ini kan udah gede.. gapapa kok.. udah sana angkat telponnya..” (mendorong si kakak)
“yaudah.. teteh angkat telepon dulu, kamu hati hati ya din..”
“iya teh.. beres..” (memberi tanda jempol dan pergi meninggalkan kakaknya)
Aku berjalan menghampiri seseorang yang sedang duduk di kursi roda itu yang sambil menangis. Akupun duduk di bangku samping kursi rodanya dan bertanya..
“kamu kenapa?”
Laki laki itu tampak terkejut mendengar pertanyaanku. Ia pun menghapus air matanya dan memalingkan wajahnya. Selama beberapa saat ia tak kunjung menjawab pertanyaanku. Aku pun mencoba bertanya lagi.
“kamu kenapa?”
Laki laki itu pun tak jua menjawab pertanyaanku. Aku pun mencoba bertanya lagi.
“kamu kenapa?”
“kenapa siih kamu tanya kamu kenapa kamu kenapa?” (mamalingkan wajahnya lagi)
Kamipun diam untuk beberapa saat. Aku melihat laki laki itu duduk dikursi roda
“kamu nggak capek ya dari tadi duduk disitu?” (sambil menunjuk kursi roda)
Tak ada jawaban lagi.
“kamu nggak capek ya duduk dikursi roda?”
Masih tak ada jawaban
“kamu nggak capek yaa…”
(memotong) “kenapa siih kamu tanya mulu? Udah tau kenapa aku duduk dikursi roda karna nggak bisa jalan dengan kayak orang orang..” (memalingkan wajahnya lagi)
“ka..kamu.. lumpuh ya...”
“IYA.. aku memang lumpuh.. !! kaki aku lumpuh, nggak bisa jalan.. sekarang udah puas? Mau nanya apa lagi hhaa? PERGI !!” (dengan nada emosi)
“ma.. maaf..”
Emosinya meledak. Mungkin aku salah ngomong. Aku pun memutuskan untuk diam dan pergi.
-Narrator POV-
Laki laki itu pun melihat dinar pergi dengan lesu.
“nggak seharusnya aku emosi kayak gini, dia cuma pengen tau aku kenapa..” ujar laki laki dikursi roda itu.
Keesokkan harinya.. laki laki dikursi roda itu pergi ketaman lagi pada sore harinya.. dengan kursi rodanya ia menyusuri taman untuk kembali ke tempatnya merenung kemaren. Ketika sudah dekat dengan tempat yang ia datangi kemaren itu.. dia melihat seorang perempuan sedang duduk disana yang sedang belajar bermain gitar. Bisma pun menghampiri perempuan itu.
“kamu lagi.. kamu lagii..” ujar bisma
“eh.. ini tempat kamu ya? Yaudah, kamu disini aja.. biar aku yang pergi..” (bersiap pergi)
“nggak usah pergi.. ini tempat umum kok.. jadi siapa aja berhak disini..”
“maaf ya buat yang kemaren..”
“nggak papa kok.. seharusnya aku yang minta maaf”
“buat apa? Kamu kan nggak salah”
“aku yang salah.. aku kemaren udah ngebentak kamu.. nggak seharusnya aku ngebentak kamu.. kamu cuma pengen tau.. dan kemaren emosi aku lagi nggak bisa aku kontrol dan kamu malah jadi sasarannya”
“nggak papa kok.. lagian aku juga salah.. aku tau kalo kamu lagi menyendiri.. tapi aku malah nge ganggu kamu.. oh ya.. aku dinar” (mengulurkan tangan)
“bisma..” (menjabat tangan dinar)
Mereka pun terdiam. Hingga bisma melihat gitar yang dibawa dinar.
“kamu, suka main gitar?”
“hehe.. lumayan.. tapi masih tahap belajar sih”
“oohh… hmm.. boleh minjem gitarnya nggak?”
“dengan senang hati” jawab dinar sambil tersenyum
Dinar menyerahkan gitarnya
Lalu Bisma pun memulai bermain gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Dinar hanya memandangi nya kagum. Setelah Bisma selesai bernyanyi Dinar masih terpaku dengan kemahiran bisma bermain gitar dan kelembutan suara bisma.
“wow.. permainan gitar yang bagus.. suara kamu juga nggak kalah bagusnya” (tepuk tangan)
“makasiih.. biasa aja kok.. sebenernya aku punya angan angan, bisa jadi penyanyi dan punya konser tunggal sendiri walaupun mini konser..” (tertawa lalu tersenyum)
“kenapa kamu nggak jadi penyanyi aja?”
Bisma terkejut dengan pertanyaan Dinar
“itu memang cita citaku.. tapi itu nggak mungkin din..” lirih dinar
“kenapa nggak mungkin? suara kamu itu bagus, kamu juga jago main gitar..”
“tapi aku lumpuh.. itu yang nggak memungkinkan aku jadi seorang penyanyi..”
“bis.. di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin..”
“ada din.. ada.. yang nggak mungkin di dunia ini adalah orang cacat seperti aku jadi seorang penyanyi..” ujar bisma “aku udah dikontrak oleh sebuah label.. tapi beberapa bulan yang lalu ketika mereka tau aku kecelakaan dan cacat. Mereka menarik kontrak itu.. mereka bilang kalo seorang penyanyi cacat itu nggak ada.. aku dan laguku nggak akan diterima sama masyarakat” sambung bisma
“kata siapa nggak ada? Kata siapa nggak diterima?”
“kata mereka.. kata orang orang label !!”
“itu kan kata orang label.. bukan kata masyarakat..”
“tapi mereka lebih tahu tentang pendapat dan selera masyarakat..”
“sekarang gini.. kamu hapus anggapan orang label yang nggak jelas itu.. sekarang kamu harus mengubah mainset kamu.. bahwa kamu akan jadi seorang penyanyi yang disukai banyak masyarakat pecinta musik..”
“aku nggak bisa..”
“bis.. inget !! di dunia ini nggak ada yang nggak bisa.. kamu belum mencoba nya.. ayo.. sekarang kamu coba ubah mainset kamu..”
Akhirnya bisma pun mencoba mengubah mainset nya..
“sekarang kamu teriak kalo kamu akan jadi seorang penyanyi..”
“haruskah?”
“ya.. tentu harus.. sekarang teriakkan kata kata aku tadi”
“aku akan menjadi seorang penyanyi..” (teriak)
“kurang keras..”
“aku akan jadi seorang penyanyi..” (teriak lagi, kali ini dengan lebih keras)
“hahaha.. sekarang kan udah sore.. gimana kalo aku anter kamu pulang?” ajak dinar
“nggak ngerepotin?”
“enggak kok..”
Akhirnya Dinar mengantar Bisma pulang. Dinar mendorong kursi roda bisma. Tanpa mereka tau, seorang produser musik mengamati mereka dari tadi..
“laki laki itu memang berbakat..” ujar si produser musik
Keesokkan harinya.. ditempat seperti yang sama seperti kemaren, Bisma dan Dinar ada di tempat itu. Tapi kini suasana nya berbeda.. mereka terlihat akrab.. bahkan sangat akrab..
“kamu ikut terapi jalan?” Tanya dinar
“iya.. tapi kemajuannya belum banyak”
“gimana kalo aku bantu buat jalan?” Tanya dinar pada bisma
“hem? Kamu mau bantuin aku jalan..?”
“iyaa.. tapi kamu harus janji sesuatu sama aku kalo kamu udah bisa jalan”
“janji? Janji apa? Jangan janji yang aneh aneh ya..”
“nggak aneh aneh kok.. pertama setiap selesai kamu belajar jalan.. kamu harus nyanyiin aku sebuah lagu. Kedua kamu harus janji kalo kamu bakal jadi musisi terkenal yang selalu ada buat penggemar kamu dan kamu nggak boleh bikin mereka kecewa”
“hahaha.. cuma itu? Itu siih beres.. aku janji..! sekarang kamu bantu aku belajar jalan..”
Akhirnya bisma pun belajar berjalan dengan dibantu dinar. Setiap sore selama seminggu ini bisma belajar berjalan dengan dinar dan setelah bisma selesai belajar berjalan bisma selalu menyanyikan sebuah lagu. Dalam dua minggu kemajuan bisma sangat pesat. Bisma sudah mulai bisa berjalan walaupun harus pelan pelan. Dan tanpa bisma dan dinar sadari, selama seminggu juga mereka diawasi oleh produser itu.. hingga akhirnya pada suatu sore ketika Bisma belum datang sedangkan dinar sudah datang ke taman, si produser menghampirinya
“kamu temannya laki laki yang duduk dikursi roda itu ya?”
Dinar yang sedang memainkan gitarnya terkejut
“anda siapa ya?”
“kenalkan, saya Dicky Prasetya.. saya produser music dari label Star Seven”
“saya dinar, temannya bisma.. yang duduk di kursi roda itu.. memangnya ada apa ya?”
“selama dua minggu ini saya selalu melihat kalian dari kejauhan.. saya lihat dari jauh, bisma mempunyai bakat yang luar biasa.. tapi saya tidak tahu suara dia dari dekat.. jadi saya minta bantuan kamu untuk mengatur agar saya bisa mendengarkan dia bernyanyi dari dekat”
“jadi..? anda berniat mengajak bisma bergabung di label anda? Begitu?”
“yaa kurang lebih seperti itu.. kamu bisa bantu saya kan?”
“iya.. saya bisa banget.. besok anda kesini saja lagi.. saya akan membuat anda bisa mendengarkan suara bisma dengan dekat..”
Produser itu tahu kalau bisma sudah berjalan menuju ketempatnya ia pun pamit
“bisma sudah jalan kesini.. jadi saya pergi dulu.. tapi ingat, jangan sampai bisma tahu tentang semua ini.. biar kamu dulu yang tahu..”
“saya janji”
“baiklah saya permisi dulu”
Akhirnya produser itu pergi. Dan bisma pun datang.
“aduh din.. maaf yaa aku ngebuat kamu nunggu.. kamu udah lama?”
“enggak kok bis.. aku disini juga baru kok.. yukk mulai latihan jalan..”
“yukk..”
Bismapun berlatih berjalan. Hingga akhirnya cukup mereka pun duduk. Dinar dan Bisma duduk dibangku taman. Karna akhir akhir ini ia lebih memilih memakai alat bantu jalan tongkat dari pada kursi roda.
“kok kamu nggak bawa gitar?”
“tadi aku lupa bawa gitar.. jadi kamu nyanyi buat aku nya besok aja..”
“okedeh..”
“oh ya.. aku besok punya kejutan buat kamu..”
“kejutan? kejutan apa? Kasih tau dong?”
“kalo aku kasih tau, itu namanya bukan kejutan lagi..”
‘“yaahh.. yaudah deh”
“yaudah.. ini kan udah sore.. sekarang kita pulang yuk..”
Lalu dinar dan bisma pun pulang..
Setelah mengantar bisma pulang kerumahnya, dinar pulang sejenak untuk ijin pada kakaknya. Dinar akan pergi ke taman lagi untuk membuat sebuah kejutan kecil untuk bisma. Awalnya kakaknya melarang, tapi karna dinar bersikeras untuk melakukan itu, akhirnya kakaknya memperbolehkan tetapi kakaknya harus ikut. Ketika sudah malam sudah sangat larut, tiba tiba dinar pingsan. Setelah dinar sadar kakaknya mengajak dinar pulang.
“din.. sebaiknya kita pulang aja.. ini udah larut malam banget”
“tapi teh.. ini belum selesai..”
“din.. kamu juga harus merhatiin kesehatan kamu! Kamu lagi drop!”
“teh.. please teh..”
“kita lanjutin besok aja ya.. teteh nggak mau kamu kenapa napa. Besok teteh minta bantuin temen temen teteh deh, biar ini cepet selesai.. ya?”
Akhirnya dinar setuju karna dia merasa kesehatannya sedang memburuk. Keesokkan sorenya dinar sudah menyiapkan semua agar produser music itu bisa mendengar suara bisma dengan dekat. Dinar membuat tempat seperti sebuah mini konser di taman. Ia menyiapkan beberapa bangku untuk penonton. Bisma dengan kursi rodanya mendekat ke arah dinar. ia heran karna begitu ramai nya taman ini. ia lihat dinar ada di depan orang orang yang sedang duduk riuh seperti menanti seseorang.
“nah itu dia penyanyi kita sudah datang.. bisma..”
Bisma pun menjalankan kursi roda nya menuju ke dinar
“din.. ini ada apaan siih? Kok rame banget?”
“kemaren kamu punya hutang nyanyi sama aku.. dan kamu pernah bilang kalo kamu pengen punya konser tunggal sendiri meskipun mini konser. sekarang kamu musti nyanyi disini, didepan aku, dan didepan mereka semua..”
“hah?” (bisma terkejut)
“ini mini konser buat kamu.. sekarang kamu nyanyi ya..” (dinar terseyum sambil mengangguk)
“tapi..” (melihat dinar, dan dinar hanya tersenyum dan mengangguk)
Dinar pun duduk bersama penonton dan bersebelahan dengan produser music yang kemaren.
Bisma pun melihat Dinar.
“ayoo bisma.. kamu pasti bisa..!” (mengangguk dan tersenyum)
Akhirnya bisma naik ke panggung kecil itu.
“baiklah.. sebelum saya bernyanyi saya ingin mengucapkan terimakasih pada dinar karna telah memberikan kejutan istimewa ini untuk saya. Terimakasih juga buat yang sudah mau datang kesini.. lirik lagu ini adalah karya dinar yang saya coba aransemen. Semoga terhibur” Bisma pun menyanyikan sebuah lagu berjudul ‘Mulai Berjalan’. Para penonton termasuk Dinar dan produser music itu merasa sangat terhibur. Ketika selesai bernyanyi semua penonton bertepuk tangan. Dinar dan produser itu menghampiri Bisma.
“suara kamu sangat bagus.. kamu punya bakat untuk jadi seorang penyanyi.. saya dicky prasetya. Saya produser music dari label Star Seven ingin mengajak kamu untuk bergabung dengan kami.. apa kamu bersedia?”
“sa.. saa.. sayaaa?”ujar bisma tak percaya
“iya kamu.. apa kamu mau bergabung di Star Seven?”
“ta.. tapi.. saya lumpuh..”
“itu tak kan menghalangi kamu untuk menjadi seorang penyanyi bisma.. ini surat kontrak kerja sama kita..” (menyerahkan sebuah map)
“terimakasih.. terimakasih sudah mau memberikan saya kesempatan yang berharga ini..” (dengan mata yang berkaca kaca)
“sama sama.. kamu juga harus berterima kasih kepada dinar karena dia yang membuat mini konser ini agar saya dapat mendengar kamu bernyanyi dengan dekat..”
“din.. makasiih.. makasih ya..”
“iya.. sama sama..”
‘aku senang melihat kamu tersenyum bahagia..’ ucap dinar dalam hati sambil tersenyum
Beberapa hari kemudian, tak disangka Bisma mendapatkan anugerah. Ia bisa berjalan lagi. Dinar sangat senang mendengarnya. Tetapi ketika kondisi Bisma membaik, justru kondisi Dinar yang semakin memburuk. Bisma baru sadar bahwa ia menyukai dinar. Tidak sekedar teman, tetapi lebih. Suatu hari bisma dan dinar pergi ke sebuah cafe. Dan disana bisma berencana akan mengungkapkan perasaannya pada dinar. Di tengah tengah pembicaraan bisma memotong percakapan mereka.
“din.. ada yang mau aku omongin sama kamu..”
“apa bis? Kok kayaknya serius banget?”
“hmm.. aku langsung to the point aja ya. (diam sejenak) aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu. Aku ingin hubungan kita lebih dari temen. Lebih dari sahabat”
Dinar hanya tercengang dengan apa yang bisma katakan.
“kamu serius bis?”
“iyaa aku serius din..”
“aku nggak bisa bis..”
“ke.. kenapa?”kaln ada
“aku nggak pantes buat kamu. Aku bakal nggak bisa selalu disamping kamu nanti.. lebih baik kamu cari cewek lain yang bakal selalu ada disamping kamu”
“kenapa kamu ngomong kayak gitu? Apa maksud kamu, kamu nggak bisa disamping aku?”
“suatu hari nanti kamu bakal tau alasan kenapa aku nolak kamu”
Tiba tiba darah segar muncul dari hidung dinar. Bisma yang melihatnya panik.
“din.. itu.. hidung kamu berdarah”
Buru buru bisma mengambil tissue dan menyeka darah yang terus mengalir.
“aku nggak papa kok bis.. aku nggak papa..”
“nggak papa gimana? Hidung kamu ngeluarin darah gini kok bilang nggak papa?”
“beneran bis.. aku nggak papa.. kamu nggak perlu khawatir sama aku”
“gimana aku nggak khawatir? Wajah kamu pucat din!! Pucat!!”
“aku cuma kelelahan bis.. lebih baik kita pulang sekarang. Aku Cuma butuh istirahat kok”
“yaudah kita pulang sekarang”
Sesampainya dirumah dinar, kakak panik mengetahui dinar sakit. Badan dinar lemas dan tak kuat untuk berjalan. Akhirnya bisma menggendongnya dan membawa ke kamar. Kakak dinar buru buru mengambilkan minum dan obat.
“sebenernya kamu sakit apa sih din?”
“sebenernya dinar itu sakit…..” sahut kakak dinar yang belum selesai lalu dipotong dinar
“aku Cuma kelelahan bis.. aku Cuma kecapekan.. kamu nggak usah khawatir.. mending kamu pulang aja.. besok kan kamu harus konser di luar kota?”
“aku bakal ngecancel konser aku itu din.. aku nggak bisa ninggalin kamu dalam kondisi kayak gini.. aku bakal nemenin kamu”
“enggak bis.. kamu nggak boleh nge cancel konser itu. Kasihan fans fans kamu. Mereka bakal kecewa sama kamu.. dan aku nggak mau itu terjadi.. lagian aku disini ada teteh kan? Aku nggak sendirian. Mereka lebih butuh kamu.. kamu lupa sama janji kamu dulu?”
“aa.. aku inget kok din.. tapi aku nggak mungkin ninggalin kamu juga..”
“bis.. kalo kamu sayang sama aku, tolong jangan cancel konser kamu besok. Aku mohon”
“oke. Sebagai wujud sayang aku sama kamu aku bakal ngelakuin demi kamu”
“bukan.. bukan demi aku.. tapi demi fans fans kamu”
“ii.. iiyaa.. demi fans fans aku…. Dan… kamu…”
Akhirnya bisma pulang. Setelah bisma pulang kondisi dinar semakin memburuk. Kakak dinar membawa dinar ke rumahsakit. Tapi nyawa dinar tak tertolong. Sebelum meninggal, dinar berpesan pada kakaknya untuk tidak memberitahukan kondisi nya sampai bisma pulang dari luar kota. Dinar juga menitipkan sebuah surat dan video yang sudah ia siapkan untuk bisma.
Sehari setelah bisma pulang dari luarkota, dari bandara bisma buru buru pergi kerumah dinar. Ia khawatir karna setelah dia pulang dari rumah dinar kemaren lusa, sampai pagi ini dinar tak mengabarinya sama sekali. Sesampainya di rumah dinar, bisma melihat bendera kuning. Ia semakin cemas. Ia pun segera masuk kerumah dinar yang ramai dengan orang. Bisma yang melihat kakak dinar langsung menghampiri kakak dinar.
“teh.. ini ada apa kok rame banget? Didepan kok ada bendera kuning sih? Emangnya siapa yang meninggal? Dinar mana teh? Aku kangen banget sama dia”
“maaf bis..”
“maa.. maaf? Maaf buat apa teh? Dinar mana?”
“Dinar udah nggak ada” jawab kakak dinar yang tak bisa membendung tangisnya
“mak.. maksud teteh apa?”
“dinar meninggal bis.. dia kena penyakit leukemia stadium akhir”
“nggak!! Nggakkk!! Ini nggak mungkin..! teteh bercanda kan? Jawab teh!!”
“teteh nggak bercanda bis..!! ayo teteh anter ke makam dinar”
Seketika bisma yang masih tak percaya bahwa dinar sudah tidak ada meneteskan airmata. Kakak dinar mengantar bisma ke makam dinar.
“kenapa kamu cepet banget ninggalin aku? Bangunn din.. bangunn…!!” tangis bisma di makam dinar.
“bis.. kita harus ikhlas..”
“apa gara gara kamu tau hidup kamu nggak panjang makanya kamu nolak aku?”
“iya bis.. dinar nolak kamu karna dia tau hidunya nggak lama lagi. Dia nggak mau bikin kamu sedih. Dan ini ada surat dan video buat kamu dari dinar. Dia nitipin ini sebelum dia pergi”
Kakak dinar meninggalkan bisma sendirian disana. Bisma baru pulang dari makam dinar setalah hari mulai  larut. Sesampainya dirumah bisma segera membuka suratnya itu. Dan lalu memutar videonya. Video nya berisi ucapan semangat untuk bisma.
“makasih din.. makasih.. karna kamu, aku bisa jadi seperti ini. Karna kamu, aku bisa bangkit dari keputus-asaanku. aku nggak akan ngelupain kamu din.. nggak akan..! aku juga sayang sama kamu.. selamanyaaa..” ujar bisma setelah membaca surat dan melihat video tersebut. Dan air mata bisma menetes. Bisma bersedih dalam keheningan di malam yang sunyi.


-Tamat-

makasih yang udah baca :)
gue tau ini masih banyak kekurangannya..
maklum lah, gue baru tahap belajar..
semoga kedepannya lebih baik :D
papayy~~ ;)

follow: @dianaplarasati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar